banner 728x250

Di Balik Tumpeng Harhubnas Ke-55 dari Polairud Polres Situbondo: Ada Do’a Rakyat dan Sinergitas Melekat

SITUBONDO, SIBERNEWS.CO.ID- Sebuah tumpeng kuning diarak masuk ke Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas IV Panarukan. Pembawanya bukan staf pelabuhan, melainkan polisi berseragam biru laut dari Satuan Polairud Polres Situbondo.

Di belakangnya, berdiri perwira TNI AL dari Pos Panarukan. Pemandangan yang jarang terjadi di hari biasa: Polri, TNI, dan KSOP berada dalam satu ruangan, bukan karena ada kecelakaan laut atau penyelundupan, melainkan karena Hari Perhubungan Nasional ke-55, Kamis (17/9/2026).

Kasat Polairud Polres Situbondo AKP Gede Sukarmadiyasa menyerahkan langsung tumpeng itu kepada Kepala KSOP Panarukan. Sebuah simbol sederhana, tapi menyimpan pesan yang lebih besar dari sekadar perayaan.

“Kerja sama antarinstansi sangat dibutuhkan karena dalam pelaksanaan tugas di lapangan, kita sering bersama-sama memberikan pelayanan kepada masyarakat,” kata AKP Gede.

Kalimat itu terdengar normatif. Namun di wilayah perairan seperti Situbondo, hal itu adalah pengakuan jujur, tugas di laut memang tak bisa dijalankan sendirian.

Panarukan adalah salah satu simpul maritim vital. Di sana bersinggungan banyak kepentingan – nelayan tradisional, kapal kargo, pengawasan pelayaran, hingga potensi penyelundupan. Di lapangan, tumpang tindih kewenangan antara Polairud, TNI AL, KSOP, dan KPLP kerap menjadi pekerjaan rumah.

Karena itu, Gede menegaskan kembali pentingnya sinergi yang selama ini sering disebut-sebut, namun tak selalu mulus di lapangan.

“Tugas kepolisian, khususnya Satpolairud, tidak dapat dilaksanakan secara sendiri-sendiri. Sinergitas dan kerja sama yang baik dengan instansi maritim lainnya menjadi hal yang sangat penting,” ujarnya.

Momentum Harhubnas ke-55 ini, kata Gede, diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni potong tumpeng. Ia harus menjadi pengingat bahwa keselamatan pelayaran, keamanan laut, dan pelayanan kepada masyarakat pesisir hanya bisa dicapai jika semua duduk dalam satu meja yang sama – seperti pagi itu di Panarukan.

Pertanyaannya kini, apakah sinergi yang ditampilkan lewat tumpeng itu akan tetap solid saat berhadapan dengan gelombang yang sesungguhnya di laut?

(Uday)

error: Content is protected !!