banner 728x250

Tingkatkan Minat Baca: Saat Dongeng dan Buku Harus Bersaing dengan Game Online, Dinperpusip Situbondo Akui Tantangan Jauh Lebih Berat

SITUBONDO, SIBERNEWS.CO.ID- Di era di mana anak bisa menghabiskan 3 jam untuk 1 game mobile, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Situbondo menawarkan alternatif: dongeng, film edukasi, dan buku.

Tantangannya jelas. Bagaimana membuat anak memilih duduk 30 menit mendengarkan cerita, ketika di genggaman mereka ada dunia game online yang tidak pernah selesai?

Untuk menjawab itu, Dinperpusip kabupaten Situbondo meluncurkan program Kunjungan Perpustakaan dengan 6 kegiatan utama: Wisata Literasi, Bunda Baca Bercerita, Wisata Tempo Doeloe, Mendongeng, Momentum Film Edukasi, dan Edukasi Anti Bullying, Senin (14/9/2026).

Jemput Bola ke Sekolah

Alih-alih menunggu di gedung perpustakaan, petugas Dinperpusip mendatangi sekolah-sekolah.

Pustakawan Dinperpusip Eny oktrieyanti arief menuturkan, lewat literasi, siswa diajak ke Perpustakaan Daerah agar tidak takut dengan tumpukan buku. Bunda Baca Bercerita mengajak anak-anak generasi penerus bangsa bercerita, mendongeng. Wisata Tempo Doeloe memperkenalkan permainan dan buku jadul.

“Anak-anak sekarang visual. Makanya ada Momentum Film Edukasi. Habis nonton, kita arahkan ke buku yang temanya sama. Begitu juga Mendongeng dan Edukasi Anti Bullying,” jelas Eny Oktrieyanti Arief

Selain itu, Sekdis Dinperpusip Iddha Arum Bawana, S.STP, M.Si menyampaikan, pihak sekolah mengaku ada perubahan. “Setelah nonton film tentang pahlawan, besoknya anak-anak rame pinjam buku di Dinperpusip,” kata Sekdis Dinperpusip Idha Arum Bawana.

Pertarungan yang Tidak Seimbang?

Namun pengamat menyebut pertarungan tidak seimbang. Game online dirancang adiktif. Ada hadiah, level, dan teman. Sementara buku menuntut imajinasi dan kesabaran.

“Program Dinperpusip bagus sebagai pemantik. Tapi kalau di rumah orang tua tetap kasih HP tanpa batas waktu, maka api kecil ini cepat padam jadi perlu kolaborasi yang baik dengan para orang tua,” tuturnya.

Disinggung apakah 6 program ini akan jalan terus, atau hanya ramai saat ada kunjungan dan dokumentasi?

Dinperpusip menyatakan berkomitmen jangka panjang. Indikatornya bukan hanya keramaian saat acara, tapi data: jumlah anggota perpustakaan baru dan frekuensi peminjaman buku.

“Kami tidak anti game atau era digitalisasi. Kami hanya ingin anak punya pilihan lain selain layar. Kalau kita tidak mulai dari sekarang, kapan lagi,” tegasnya.

Di tengah bising notifikasi game, suara dongeng dan proyektor film edukasi kini dicoba dikeraskan. Pertanyaannya: akankah didengar generasi penerus bangsa?.

(Uday)

error: Content is protected !!