banner 728x250

Pasca Muktamar ke-35, Kyai Kampung Gus Lilur Suarakan Slogan Ber-NU Tanpa Ber-PBNU’ Kembalikan Rais Aam Pada Sosok Yang Tepat

SITUBONDO, SIBERNEWS.CO.ID- Dinamika internal Nahdlatul Ulama (NU) kembali menjadi perbincangan hangat publik pasca Muktamar ke-35 di PP. Bahrul Ulum Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur. Slogan “Ber-NU Tanpa Ber-PBNU” kembali disuarakan oleh sebagian warga NU.

Slogan tersebut digaungkan HRM. Khalilur R. Abdullah Sahlawiy, Gus Lilur sapaan akrabnya yang merupakan kyai kampung sekaligus warga NU asal Situbondo. Ia mengaku pertama kali melontarkan istilah itu pada Januari 2022.

“Saat itu saya dikecam dan dinyinyirin banyak orang. Faktanya sekarang mengada: mandataris Muktamar ke-34 Lampung berantem, saling buka borok sendiri, saling pecat. Semua Warga NU malu pada kelakuan mereka yang di PBNU,” kata Gus Lilur dalam pernyataan tertulis, Senin (14/9/2026).

Alumni santri pondok pesantren Denayar Jombang tersebut menegaskan, “Ber-NU” berarti beragama Islam dengan cara NU: bermadzhab Syafi’i, berakidah Asy’ari, dan bertasawuf ala Imam Junaid Al-Baghdadi atau Imam Al-Ghazali.

“Mengamalkan 3 cara beragama sesuai ajaran NU di atas tidak perlu ber-PBNU. Para Kyai Alim NU sudah mengajarkan kami hal tersebut,” jelasnya.

Gus Lilur juga melontarkan kritik tegas terhadap Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar. Ia menyebut Rais Aam “awam” dan “tidak punya kapasitas”. Sebagai bukti, ia merujuk pada 2 video seorang anak Ibtidaiyah bernama “SITI” yang mengomentari pidato Rais Aam saat penutupan Munas Konbes di Bangkalan dan pembukaan Muktamar di Jombang. Video tersebut ia akui dibuat oleh timnya.

“Kesalahan pidato Rais Aam di penutupan Konbes-Munas NU di Bangkalan tersebut saya rilis di 80 media: Rais Aam Awam, plagiat, salah pasang harkat,” ujarnya.

Karena alasan itu, Gus Lilur dalam video podcast nya di akun @forumkeadilanTV menyatakan menolak dipimpin oleh “Kyai Awam”.

“Karenanya saya yang berguru pada banyak Kyai Alim di NU menolak dipimpin Kyai Awam: Ber-NU tanpa ber-PBNU.

“Silahkan tonton Video podcast berikut ini:

https://youtu.be/K1obU68JBQw?si=x1j5Pyz_VvlTfaEh” tegas Gus Lilur.

Slogan serupa juga kini muncul di kalangan warga NU dengan variasi bahasa daerah:

Ber-NU selamanya, ber-PBNU sekedarnya, dan “Ber-NU saklawase, ber-PBNU sak cukupe.

Selanjutnya, sebelum menutup podcastnya Gus Lilur berharap bahwa NU jangan sampai menjadi boneka penguasa NU sebagai pendiri bangsa harus dijaga marwahnya.

Salam Amar Makruf Nahiy Mungkar.

HRM. Khalilur R Ab. S

Warga NU, Kyai Kampung.

(Uday)

error: Content is protected !!