banner 728x250

Lahir Dari Keresahan! Situbondo Darurat Kekerasan Perempuan dan Anak, Swara Setara Cetak Generasi Muda Jadi Pelindung

SITUBONDO, SIBERNEWS.CO.ID- Di tengah temaram cahaya lilin, puluhan anak muda Situbondo duduk melingkar. Tidak ada orasi berapi-api. Tidak ada spanduk raksasa. Yang ada hanya satu janji: melahirkan generasi muda yang setara dan berani melawan kekerasan.

Sabtu malam (18/7/2026), Komunitas Swara Setara resmi membuka Kelas Setara #2. Mengusung tagline “Suara Muda untuk Ruang yang Setara”.

“Meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Situbondo menunjukkan bahwa edukasi pencegahan harus menjadi prioritas. Melalui Kelas Setara #2, Swara Setara ingin melahirkan anak-anak muda yang menjadi pelopor anti kekerasan, berani bersuara, serta mampu menciptakan ruang yang aman dan setara di lingkungannya,” kata Ketua Swara Setara, Bella Dwi Indah Sari, saat membuka kegiatan.

Swara Setara lahir dari keresahan anak muda terhadap ruang-ruang yang belum aman. Mulai dari kampus, sekolah, tempat kerja, hingga ruang publik.

Bella menyoroti data terbaru dari UPT PPA Kabupaten Situbondo. Terjadi kenaikan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak dari 59 kasus pada 4 Juni 2026 menjadi 67 kasus per 1 Juli 2026.

“Dalam waktu kurang dari satu bulan, terjadi penambahan 8 kasus. Ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan dan edukasi harus terus diperkuat,” tutur Bella.

“Kami tidak ingin anak muda hanya menjadi saksi meningkatnya kasus kekerasan. Melalui Kelas Setara #2, kami ingin melahirkan generasi pelopor anti kekerasan yang mampu mencegah, mendampingi, dan menggerakkan lingkungan yang lebih aman bagi perempuan dan anak,” tegasnya.

Materi Kelas Setara #2

Dalam kelas ini, peserta dibekali materi tentang perspektif kesetaraan gender, perlindungan anak, pencegahan kekerasan, hingga keamanan digital.

Harapannya, peserta tidak hanya memahami isu, tetapi mampu menjadi pelopor dan agen perubahan yang menciptakan ruang-ruang aman di sekolah, kampus, komunitas, maupun lingkungan tempat tinggalnya.

Cahaya Lilin Dipadamkan, Semangat Dinyalakan

Acara ditutup dengan pemadaman lilin bersama dan api unggun. Simbol bahwa cahaya itu tidak akan padam. Ia akan dibawa pulang oleh setiap anak muda yang hadir, untuk dinyalakan di ruangnya masing-masing.

“Kami mungkin kecil hari ini. Tapi kami percaya, dari cahaya kecil ini, akan lahir generasi muda yang berani dan setara. Pencegahan kekerasan adalah tanggung jawab bersama, dan kami percaya perubahan dapat dimulai dari anak muda yang berani bersuara dan bergerak,” tutup Bella.

(Uday)

error: Content is protected !!