banner 728x250

Karhutla Pegunungan Ijen: Ancaman Ekologis yang Harus Dicegah Bersama

BANYUWANGI,SI, SIBERNEWS. CO. ID Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di kawasan Pegunungan Ijen menjadi pengingat penting bahwa perlindungan hutan bukan hanya tanggung jawab petugas, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

Kebakaran yang pertama kali terdeteksi di kawasan hutan dan perkebunan Pasewaran, Kecamatan Kalipuro, pada Rabu (2/9/2026), terus mendapatkan penanganan dari personel gabungan. Api kemudian merambat menuju kawasan Cagar Alam Kawah Ijen–Merapi Ungup-Ungup hingga mendekati kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen.

Kondisi tersebut mendapat perhatian serius karena kawasan Pegunungan Ijen memiliki medan yang cukup ekstrem. Lereng terjal, jurang, vegetasi rapat dan keterbatasan akses membuat proses pemadaman tidak mudah dilakukan.

Polresta Banyuwangi bersama TNI, BPBD Banyuwangi, BBKSDA Jawa Timur, Perhutani, pemerintah daerah, relawan, masyarakat peduli api serta unsur terkait lainnya terus melakukan pemantauan dan penanganan di lapangan.

Petugas melakukan ground check, pemantauan titik api, penyekatan serta pemadaman melalui jalur darat. Kendaraan operasional digunakan sejauh memungkinkan, sedangkan menuju lokasi yang tidak dapat dijangkau kendaraan, personel harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Sejumlah peralatan seperti mesin jet pump dan perangkat penyemprot air digunakan untuk mendukung pemadaman. Dukungan suplai air juga disiapkan guna membantu petugas di lapangan.

Namun, karakter medan Pegunungan Ijen membuat upaya pemadaman membutuhkan strategi dan dukungan yang lebih besar.

Wakapolresta Banyuwangi AKBP Teguh Priyo Wasono mengatakan, pemerintah daerah didorong untuk mengajukan dukungan penanganan melalui jalur udara berupa helikopter water bombing kepada BPBD Jawa Timur dan Kantor SAR Surabaya.

“Selain upaya pemadaman melalui jalur darat, kami mendorong Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk mengajukan dukungan penanganan melalui jalur udara berupa helikopter water bombing kepada BPBD Jawa Timur dan Kantor SAR Surabaya,” kata Teguh.

Menurutnya, dukungan tersebut diperlukan karena masih terdapat titik api yang berada di kawasan yang sulit dijangkau secara langsung oleh personel darat.

Karhutla sering kali dipahami hanya sebagai persoalan kebakaran. Padahal, dampaknya dapat jauh lebih luas.

Hutan memiliki fungsi penting sebagai habitat berbagai jenis flora dan fauna, menjaga tata air, membantu mempertahankan kualitas udara serta melindungi tanah dari berbagai ancaman kerusakan lingkungan.

Ketika kebakaran terjadi di kawasan konservasi, kerusakan yang ditimbulkan tidak selalu dapat dipulihkan dalam waktu singkat. Vegetasi yang terbakar membutuhkan waktu untuk tumbuh kembali, sementara satwa liar dapat kehilangan tempat berlindung maupun sumber makanan.

Karena itu, upaya penanganan karhutla tidak berhenti pada pemadaman api. Pencegahan menjadi bagian yang sama pentingnya.

Perkembangan kebakaran yang mendekati kawasan Pondok Bunder dan jalur pendakian Kawah Ijen juga berdampak terhadap aktivitas wisata.

Pada Jumat (4/9/2026), kebakaran dilaporkan telah mencapai kawasan Pos 4 jalur pendakian TWA Kawah Ijen.

Untuk mengantisipasi risiko terhadap pengunjung, BBKSDA Jawa Timur menutup sementara aktivitas kunjungan ke kawasan TWA Kawah Ijen hingga waktu yang belum ditentukan.

Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya mengutamakan keselamatan masyarakat dan wisatawan sekaligus memberikan ruang bagi personel gabungan untuk melakukan penanganan kebakaran.

Masyarakat dan wisatawan diimbau untuk tidak memaksakan diri memasuki kawasan yang telah dinyatakan ditutup.

Masyarakat yang berada di sekitar kawasan hutan diharapkan tidak melakukan pembakaran secara sembarangan, termasuk membakar sampah atau membuka lahan dengan cara yang berpotensi menyebabkan api tidak terkendali.

Api kecil di kawasan kering dapat dengan cepat membesar apabila dipengaruhi angin dan kondisi vegetasi yang mudah terbakar.

Karena itu, apabila masyarakat menemukan asap atau indikasi kebakaran di kawasan hutan, informasi tersebut sebaiknya segera dilaporkan kepada petugas atau aparat terdekat agar dapat dilakukan pemeriksaan dan penanganan sedini mungkin.

Wakapolresta Banyuwangi menegaskan bahwa keselamatan personel dan masyarakat menjadi perhatian dalam setiap tahapan penanganan.

“Sinergitas lintas sektoral menjadi kekuatan utama dalam menghadapi karhutla di kawasan Pegunungan Ijen. Setiap unsur memiliki peran masing-masing, namun seluruhnya bergerak dalam satu tujuan yang sama, yakni mengendalikan kebakaran, melindungi kawasan hutan, serta menjaga keselamatan masyarakat,” terangnya.

Hingga Sabtu (5/9/2026), personel gabungan masih melakukan pemantauan, pemadaman dan pengendalian terhadap titik-titik api yang berpotensi meluas.

Karhutla Pegunungan Ijen menjadi pelajaran penting bahwa menjaga hutan tidak cukup dilakukan ketika api sudah muncul. Kesadaran, kewaspadaan dan pencegahan harus dilakukan sejak awal.

Menjaga Ijen bukan hanya tugas petugas di garis depan. Menjaga Ijen adalah tanggung jawab bersama—karena ketika hutan terbakar, yang dipertaruhkan bukan hanya pepohonan, tetapi juga ekosistem, kehidupan masyarakat dan masa depan lingkungan.

(HERMAN)

error: Content is protected !!