banner 728x250

Dari Loper Koran ke Wartawan Utama: Agus Lawu Buktikan Kompetensi Tak Bisa Instan

MAGETAN, SIBERNEWS.CO.ID — Di tengah merosotnya kualitas sebagian praktik jurnalistik akibat menjamurnya “wartawan instan”, sosok Agus Suyanto, yang akrab disapa Agus Lawu, justru tampil sebagai bukti nyata bahwa profesionalisme tidak bisa diraih secara cepat dan instan.
Perjalanan Agus bukan dimulai dari ruang redaksi atau bangku akademik, melainkan dari jalanan. Ia mengawali karier sebagai loper koran, menjajakan berita dari tangan ke tangan, menyusuri sudut-sudut kota, dan merasakan langsung bagaimana informasi memiliki nilai di mata masyarakat.

Dari pengalaman sederhana itulah, mental dan pemahamannya tentang dunia media mulai terbentuk.
Naik Bertahap, Bukan Instan
Agus kemudian menapaki tahap demi tahap dalam industri media. Ia pernah berada di sektor distribusi, masuk ke ranah marketing media, hingga akhirnya menembus ruang redaksi.
Di fase marketing, ia memahami satu hal penting:
kepercayaan adalah fondasi utama media.

BACA JUGA :
Dinas DPRKP Kabupaten Magetan Siap Rehap 419 Rumah Tidak Layak Huni

Namun tantangan sesungguhnya justru datang ketika ia terjun ke dunia jurnalistik secara langsung. Di sana, ia berhadapan dengan realitas keras—bahwa satu kesalahan bisa merusak reputasi, dan satu berita bisa berdampak luas bagi publik.

“Dari bawah saya belajar, berita itu bukan main-main. Ada tanggung jawab besar di dalamnya,” ungkap Agus.

Puncak Prestasi: Wartawan Jenjang Utama
Tidak berhenti pada pengalaman lapangan, Agus memilih jalur profesional yang jelas: mengikuti Uji Kompetensi
Wartawan (UKW) sesuai standar Dewan Pers.
Ia menapaki seluruh jenjang secara bertahap:
Wartawan Muda — memahami dasar jurnalistik
Wartawan Madya — memperdalam tanggung jawab dan kualitas
Wartawan Utama — menguji kepemimpinan dan integritas
Hingga akhirnya, Agus berhasil mencapai jenjang tertinggi: Wartawan Utama.

Prestasi ini bukan sekadar gelar, tetapi simbol dari proses panjang, disiplin, dan komitmen terhadap kualitas jurnalistik.
“Profesi tanpa kompetensi itu kosong. Bahkan bisa berbahaya,” tegasnya.

BACA JUGA :
Skandal Dana Pokir Magetan Mengguncang, Ketua DPRD Jadi Tersangka, Kejari Buka Peluang Tersangka Baru

Kritik Keras untuk Wartawan Instan
Keberhasilan Agus Lawu sekaligus menjadi kritik tajam terhadap fenomena “wartawan instan” yang mengabaikan etika dan kompetensi.

Menurutnya, kebebasan pers kerap disalahartikan sebagai kebebasan tanpa batas. Padahal tanpa kompetensi, kebebasan hanya melahirkan kebisingan—bukan kebenaran.
“Tidak ada jalan pintas. Kalau dipaksakan naik tanpa proses, yang hancur bukan hanya kualitas berita, tapi kepercayaan publik,” tandasnya.

Pesan Tegas: Siap Diuji atau Mundur
Bagi Agus, mengikuti UKW bukan sekadar formalitas atau mengejar sertifikat. Lebih dari itu, ini adalah bentuk tanggung jawab moral kepada publik.
Ia pun mengajak seluruh insan pers untuk tidak berpuas diri dan terus meningkatkan kapasitas diri.

“Kalau ingin disebut wartawan, harus siap diuji. Kalau tidak, lebih baik mundur daripada merusak profesi,” ujarnya tegas.

 

BACA JUGA :
Hasil Lab MBG Di SDN 2 Kediren Magetan Tidak Ditemukan Bakteri,Dugaan kuat tertuju pada peralatan Memasak kurang Higienis

Dari seorang loper koran yang berjuang di jalanan hingga mencapai posisi wartawan jenjang utama, Agus Lawu membuktikan bahwa dunia jurnalistik adalah tentang proses, integritas, dan kompetensi.
Di tengah derasnya arus informasi saat ini, satu hal menjadi jelas:
yang akan bertahan bukan yang cepat, tetapi yang benar-benar layak dan berkompeten.(Rif)

error: Content is protected !!