SITUBONDO, SIBERNEWS.CO.ID- Insiden memalukan yang melibatkan program prioritas Presiden, Makan Bergizi Gratis (MBG), terjadi di jantung Kota Situbondo. Ratusan ompreng stainless milik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kotakan tumpah dan berserakan di badan jalan Alun-Alun Situbondo.
Video amatir yang merekam kejadian itu memperlihatkan kepanikan di lokasi. Ompreng-ompreng berlogo MBG itu menggelinding di aspal, sementara beberapa petugas berseragam, termasuk anggota Satpol PP dan relawan SPPG, terlihat memunguti satu per satu di bawah terik matahari dan lalu lalang kendaraan.
Insiden yang terjadi Selasa siang (20/10/2026) itu sempat memicu spekulasi liar di media sosial. Apakah ompreng yang menjadi wadah MBG itu masih penuh ataukah sudah kosong.
Kepala SPPG Kotakan dan Korwil BGN Angkat Bicara
Kepala SPPG Kotakan Alib Yugo Nugroho mengakui adanya kelalaian fatal dari timnya di lapangan.
“Hal tersebut benar terjadi dikarenakan kelalaian relawan kami setelah pengambilan ompreng dari sekolah-sekolah dan kami sudah berikan teguran keras ,” ujar Kepala SPPG Kotakan.
Pernyataan itu diperkuat oleh Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Situbondo, Moh. Faizi. Ia memastikan pihaknya tidak mentolerir kelalaian tersebut dan langsung menjatuhkan sanksi.
“Kami sudah komunikasi dengan Korcam dan Kepala SPPG Kotakan agar memberikan sanksi SP 1. Bagaimanapun alasannya ini murni kelalaian,” kata Faizi kepada Sibernews.co.id.
Faizi juga mengklarifikasi status ompreng yang tumpah. Beruntung, kata dia, ompreng yang berhamburan itu dalam kondisi kosong bekas pengembalian dari sekolah-sekolah, bukan makanan siap saji yang akan didistribusikan.
“Untungnya ini ompreng yang kosong. Kalau ompreng yang masih mau didistribusikan, berapa kerugian yang akan dialami. Jadi apa pun alasannya ini adalah kelalaian,” tegasnya.
Klarifikasi ini meredam kekhawatiran soal aspek higienitas dan keamanan pangan. Namun di sisi lain, insiden ini justru membuka borok lain: lemahnya Standar Operasional Prosedur (SOP) pengangkutan logistik MBG.
Bagaimana mungkin pintu mobil box pengangkut ratusan aset negara itu bisa terbuka di jalan raya pusat kota? Apakah tidak ada pemeriksaan ganda (double check) sebelum kendaraan berjalan? Dan apakah relawan yang direkrut sudah mendapatkan pelatihan penanganan logistik yang memadai?
Pertanyaan itu relevan, karena seperti dikatakan Faizi sendiri, jika yang tumpah adalah ompreng berisi makanan penuh, kerugiannya bukan hanya ratusan porsi yang terbuang, tetapi juga potensi kerugian negara dan rusaknya citra program MBG di mata publik Situbondo.
Sanksi SP1 yang diberikan diharapkan bukan sekadar formalitas. Publik menunggu evaluasi menyeluruh dari BGN Situbondo agar insiden ompreng tumpah di aspal Alun-Alun tidak kembali terulang.
(Uday)


