banner 728x250

Jelang Nataru, Hotel Utama Raya Situbondo Tertatih: 47 Karyawan Dipangkas, Booking Masih Via Manual

Manajemen Utama Raya Beach Akui Sistem Manual, Tak Ada Kerjasama Berkelanjutan dan Hanya Andalkan Weekend.

SITUBONDO, SIBERNEWS.CO.ID- Di saat hotel-hotel di luar kota sedang perang promo digital menyambut libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026/2027, Hotel Utama Raya Beach – hotel terbesar dan paling legendaris di Situbondo – justru mengakui sedang dalam kondisi tertatih, Senin (19/10/2026).

Pengakuan jujur namun mengejutkan itu disampaikan manajemen Utama Raya Beach, Hakim sapaan akrabnya kepada Sibernews.co.id.

FAKTA 1: DARI 60 KARYAWAN SISA 13 ORANG

Hakim menyatakan secara blak-blakan bahwa adanya pemangkasan karyawan besar-besaran di divisi resto khusus bus pariwisata akibat sepinya pengunjung.

“Dulu resto yang khusus bus ada 60 karyawan, sisa 13 orang yang bekerja. Jadi kita pangkas atau dirumahkan cukup banyak karena gak nutut untuk menggaji,” ungkap Hakim Penanggung jawab Manajemen Hotel Utama Raya Beach.

Penyebabnya, menurut klaim manajemen, adalah aturan Gubernur yang melarang kegiatan wisata, yang membuat rombongan bus pariwisata enggan berhenti.

FAKTA 2: SISTEM BOOKING MASIH VIA WHATSAPP MANUAL

Di era dimana 80% tamu hotel memesan via Traveloka, Tiket.com, dan aplikasi booking online lainnya, Utama Raya Beach masih menggunakan sistem manual.

“Sistem order disini lewat WhatsApp karena Utama Raya masih menggunakan sistem manual, belum bisa melangkah ke sistem via booking aplikasi secara online,” ujar Hakim.

Tak heran, kerjasama dengan travel agent pun diakui sangat minim.

“Kerjasama dengan travel hanya melalui WA ketika ingin booking saja, tapi tidak berkelanjutan, jadi tidak kontrak rutin,” tambah Hakim.

Pola ini menjelaskan kenapa pernyataan Kepala Satpam sebelumnya menyebut Senin sampai Kamis tidak terlalu ramai pengunjung maupun tamu hotel kecuali weekend- hal ini memicu dugaan apakah tim sales yang mengunci tamu korporat untuk mengisi weekday bekerja kurang maksimal?.

FAKTA 3: HARGA HAMPIR FLAT, STRATEGI NATARU ALA KADAR

Selanjutnya, Hakim menuturkan, untuk diferensiasi harga Weekday Rp350.000 dan Weekend Rp400.000-an. Selisih Rp50 ribu dinilai tidak cukup menarik untuk menggeser tamu ke weekday.

Strategi jelang Nataru pun diakui masih konvensional: menambah tenaga kontrak maupun karyawan serta kebersihan toilet yang ditingkatkan.

“Jelang Nataru pastinya ada lonjakan karena liburan sekolah,” kata manajemen optimis.

Namun optimisme itu berbanding terbalik dengan pengakuan lain: “Kerjasama dengan pemerintah, maupun birokrat itu tidak ada.”

Padahal hotel ini berada di jalur Pantura utama dan menjadi ikon pariwisata Situbondo.

FAKTA 4: MIMPI WATERBOOM SYARIAH TERKENDALA DANA

Saat ditanya inovasi, manajemen menyebut rencana besar membangun Waterboom syariah laki-laki dan perempuan.

“Kalau lahannya sudah ada, cuma tinggal nunggu dana untuk pembangunannya yang belum ada,” ujarnya.

Sebuah ironi: Rencana miliaran rupiah sudah ada lahan, tapi untuk beralih ke sistem booking online yang hanya butuh ratusan ribu rupiah per bulan, belum bisa melangkah.

Hingga berita ini dinaikkan, Pemkab Situbondo belum memberikan tanggapan terkait minimnya sinergi pariwisata dengan hotel terbesar di daerahnya.

(Uday)

error: Content is protected !!