SITUBONDO, SIBERNEWS.CO.ID- Lonjakan kasus penyakit dengan gejala mirip influenza atau Influenza Like Iliness (ILI) di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, tak terbendung. Di tengah isu Super Flu yang menghantui, Situbondo mencatat kenaikan signifikan dalam sepekan.
Dinas Kesehatan Kabupaten Situbondo melaporkan, pada Minggu epidemiologi ke-39, periode 27 September hingga 3 Oktober 2026, total kasus ILI mencapai 251 kasus.
Angka ini naik menjadi 17,8 persen dibandingkan pekan sebelumnya saat minggu ke-38.
Asembagus Jadi Episentrum, Naik 76,2 Persen
Yang paling mengejutkan adalah sebaran kasusnya. Laporan yang dihimpun dari 15 fasilitas kesehatan (Faskes) itu menunjukkan, kenaikan paling brutal terjadi di wilayah kerja Puskesmas Asembagus.
Puskesmas di ujung timur Situbondo itu melaporkan kenaikan 76,2 persen.
“Total kasus ILI di minggu ke-39 sebanyak 251 kasus. Terdapat kenaikan 38 kasus atau 17,8 persen dibanding minggu ke-38,” kata Kepala Dinas Kesehatan Situbondo, Dwi Herman Susilo S.KM., M.Kes. Saat diwawancarai di ruang kerjanya, Selasa (13/10/2026).
Namun di balik angka ratusan itu, muncul kejanggalan yang dipertanyakan.
Rumah Sakit Bungkam, Nol Laporan
Laporan Dinkes mencatat, tidak ada laporan ILI dari Rumah Sakit. Baik RSUD dr. Abdoer Rahem maupun rumah sakit swasta, nol laporan.
Padahal, secara logika epidemiologi, rumah sakit seharusnya menjadi muara pasien ILI dengan gejala sedang-berat yang tidak tertangani di Puskesmas.
Apakah rumah sakit tidak melaporkan melalui sistem kewaspadaan dini dan respon? Atau memang pasien memilih tidak berobat ke rumah sakit karena takut di-cap gejala sakit ILI?
Hingga berita ini dinaikkan, Direktur RSUD Abdoer Rahem Situbondo dr. Sudharmono belum memberikan klarifikasi.
Kabar baiknya, Dinkes memastikan tidak ada laporan kematian akibat ILI di seluruh Faskes hingga pekan ke-39.
Vaksin Kosong di Puskesmas, Ada di Dokter Swasta
Fakta lain yang lebih memprihatinkan adalah soal pencegahan. Di saat kasus meledak, benteng pertahanan justru kosong.
Dinas Kesehatan mengakui, vaksin influenza tidak tersedia di Puskesmas. Vaksin hanya tersedia di praktek dokter swasta.
Artinya, warga miskin yang bergantung pada layanan Puskesmas, tidak punya akses terhadap perlindungan spesifik ILI. Mereka yang mampu membayar di dokter swasta, yang bisa mendapatkan vaksin.
Situasi di Situbondo kini seperti bom waktu. Kasus naik 17,8 persen, episentrum di Asembagus naik 76,2 persen, rumah sakit bungkam, dan vaksin di Puskesmas belum tersedia karena belum ada keputusan dari Kementerian Kesehatan.
Publik menunggu, apakah Dinkes akan melakukan Penyelidikan Epidemiologi terbuka di Asembagus, atau kembali menenangkan warga dengan kalimat masyarakat tidak perlu panik, cukup rajin cuci tangan, gunakan masker, jaga daya tahan tubuh dengan pola hidup sehat dan hindari kontak dengan orang sakit.
(Uday)



