MAGETAN, SIBERNEWS.CO.ID – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah dinilai sebagai langkah strategis dalam mencetak generasi sehat menuju Indonesia Emas 2045. Namun di balik besarnya gaung program tersebut, suara dari akar rumput—khususnya peternak rakyat—mulai mengemuka.
Ketua PINSAR Petelur Nasional Kabupaten Magetan, Surohman, menegaskan bahwa keberhasilan program MBG tidak boleh mengesampingkan peran peternak lokal yang selama ini menjadi tulang punggung produksi telur nasional.
Menurut Surohman, sebelum MBG hadir, peternak mandiri telah lebih dulu berjuang menjaga stabilitas produksi, bahkan berhasil mendorong Indonesia mencapai swasembada telur.
“Sekitar 98 persen usaha peternakan dikelola oleh peternak rakyat. Ini fakta yang tidak bisa diabaikan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti isu kekurangan pasokan telur yang sempat mencuat.
Berdasarkan data yang ada, produksi telur nasional mencapai sekitar 6,8 juta ton per tahun. Sementara kebutuhan untuk program MBG, jika berjalan penuh, diperkirakan hanya sekitar 10.500 ton atau sebagian kecil dari total produksi.
“Artinya, secara kapasitas kita sebenarnya cukup. Persoalannya bukan pada produksi, tetapi distribusi dan penyerapan yang belum merata,” tegasnya.
Lebih lanjut, Surohman mengingatkan agar pemerintah tidak terburu-buru membuka keran investasi asing dalam skala besar di sektor peternakan. Ia khawatir langkah tersebut justru akan meminggirkan peternak kecil yang selama ini sudah eksis dan berkontribusi nyata.
Sebagai solusi, ia mendorong penguatan peternak rakyat melalui kemitraan dengan SPPG di daerah serta dukungan pembiayaan yang tepat sasaran. “Yang dibutuhkan peternak hari ini adalah akses permodalan, stabilitas harga pakan, dan distribusi yang lancar. Bukan kompetisi dengan investasi besar,” jelasnya.
Surohman juga berharap pemerintah, khususnya Kementerian Pertanian, konsisten dalam merancang kebutuhan produksi, termasuk kebijakan impor bibit ayam (GPS) agar tidak menimbulkan ketidakseimbangan pasar.
“Kenaikan biaya produksi yang tidak terkendali bisa mematikan peternak mandiri. Ini yang harus dijaga,” imbuhnya.
Di akhir pernyataannya, Surohman mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama membangun kemandirian sektor peternakan nasional dengan berpihak pada kekuatan dalam negeri.
“Program MBG adalah peluang besar, tapi jangan sampai peternak rakyat hanya jadi penonton. Justru mereka harus menjadi pemain utama,” pungkasnya.(Rif)








