TUBONDO, SIBERNEWS.CO.ID- HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau cicit Raja Champa siap mencetak Pabrik- pabrik baru dengan berdagang beras kualitas terbaik dari Vietnam, ia membuat pabrik pabrik tersebut atas dasar penderitaan rakyat, Jum’at (1/7/2025).
Sepuluh tahun lalu, Khalilur R Abdullah Sahlawiy menolak mentah-mentah ajakan rekan-rekannya untuk menggeluti bisnis beras di Vietnam. Lahir dan besar di lingkungan keluarga petani pemilik sawah ratusan hektar di sebuah dusun di Situbondo, Jawa Timur, Khalilur justru merasa jenuh dengan segala hal yang berkaitan dengan pertanian.
“Saya ini orang dusun. Rumah saya dikelilingi sawah milik eyang. Timur, barat, utara, selatan semua sawah. Saya sudah kenyang dengan urusan sawah,” kenang Khalilur atau yang mendapat gelar Kanjeng Pangeran (KP) Edo Yudha Negara menceritakan perjalanannya ke Vietnam pertama kali pada tahun 2013 dan awal mula menapaki dunia bisnis dua tahun kemudian.
Namun perjalanan waktu membawanya kembali ke titik awal. Setelah hampir satu dekade mengembangkan usaha tambang dan budidaya perikanan, khususnya lobster, di berbagai negara termasuk Vietnam, Khalil kini justru kembali ditawari untuk terjun ke perdagangan beras, kali ini oleh para pelaku usaha besar di Vietnam yang juga merupakan mitranya dalam bisnis batubara dan lobster.
Menurut Jhi Lilur, hubungan dagang antara Indonesia dan Vietnam kini berpusat pada tiga sektor utama: pertanian (beras), pertambangan (batubara), dan perikanan (lobster dan hasil laut lainnya). Dalam posisi sebagai pelaku usaha di tiga sektor tersebut, Khalil melihat peluang untuk ikut serta, khususnya dalam perdagangan beras premium.
“Saya anti impor beras CBP (Cadangan Beras Pemerintah). Itu menyakiti petani. Tapi beras khusus adalah pasar tersendiri yang tidak bersinggungan dengan gabah petani kita,” tegasnya.
Ia merujuk pada fakta bahwa sebagian besar beras khusus yang diimpor Indonesia adalah beras dengan kualitas super premium, yang harganya jauh di atas rata-rata harga beras dalam negeri. “Harganya bisa mencapai Rp 25.000 hingga Rp 65.000 per kilogram. Tidak banyak petani Indonesia yang menanam padi dengan spesifikasi seperti itu,” jelasnya.
Pemerintah Indonesia, menurutnua, telah menetapkan kuota impor beras khusus pada tahun 2025 sebesar sekitar 420.000 ton. Volume ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pasar niche, seperti hotel, restoran, dan industri makanan tertentu.
Dalam kunjungannya ke Vietnam Selatan baru-baru ini, Jhi Lilur mengunjungi tiga provinsi utama penghasil beras di kawasan Delta Mekong, yaitu Dong Thap, An Giang, dan Can Tho. Ia menyaksikan sendiri betapa masif dan modernnya industri penggilingan padi di Vietnam.
“Di tiga provinsi itu, terdapat ribuan pabrik padi. Infrastruktur mereka luar biasa. Ini jadi pelajaran penting bagi saya bahwa Indonesia bisa melakukan hal serupa,” katanya.
Ia mengaku terinspirasi untuk mulai membangun pabrik-pabrik padi modern di berbagai kabupaten di Indonesia. Tak hanya itu, Khalil juga bermimpi untuk terlibat aktif dalam pencetakan sawah-sawah baru seperti yang dilakukan sejumlah konglomerat Indonesia di Papua.
Kini, hikmah dari perjalanan ini, tekad kembali menjadi Petani semakin membuncah di hati, beberapa Perusahaan Pertanian yang sudah Saya dirikan lebih dari 10 Tahun lalu sudah Saya buatkan Induk Perusahaannya:
BAPANTARA GRUP
Bandar Pangan Nusantara Grup
Sebuah Induk Perusahaan yang sudah membawahi 18 Anak Perusahaan yang akan segera Saya kibarkan di Nusantara.
Di Negara Agraris seperti Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak boleh lagi ada Warganya yang Kelaparan karena tak mampu membeli beras.
BISMILLAH.
Salam Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy
Founder Owner
BAPANTARA Grup
(Uday)


