Bondowoso, SIBERNEWS.CO.ID – Kelangkaan gas elpiji bersubsidi 3 kilogram masih terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Bondowoso. Kondisi tersebut memicu keluhan masyarakat karena gas melon sulit diperoleh dan harganya melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).
Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Bondowoso menilai perlu adanya langkah cepat dari pemerintah daerah untuk mengatasi persoalan tersebut.
SMSI meminta pemerintah segera melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pangkalan elpiji serta melakukan pengawasan terhadap pelaku usaha, khususnya pengusaha ayam potong, yang diduga menggunakan gas elpiji bersubsidi sebagai pemanas ternaknya.
Mulyono Bidang Investigasi SMSI Bondowoso menyampaikan bahwa elpiji 3 kilogram merupakan barang subsidi yang diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu dan pelaku usaha mikro. Penggunaan gas tersebut oleh usaha skala menengah dan besar dinilai berpotensi menyalahi aturan distribusi.
“Pemerintah perlu memastikan elpiji subsidi benar-benar tepat sasaran. Jika ada pelaku usaha besar yang menggunakan gas 3 kilogram, maka harus ada penertiban,” ujarnya, Rabu (28/1/2026).
Menurut SMSI, kelangkaan elpiji tidak hanya disebabkan oleh keterbatasan kuota, tetapi juga lemahnya pengawasan di tingkat pangkalan.
Oleh karena itu, SMSI mendorong Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Bondowoso bersama Pertamina dan aparat penegak hukum untuk turun langsung ke lapangan.
Selain memastikan stok dan distribusi, pemerintah juga diminta menindak tegas pangkalan yang menjual elpiji di atas HET atau menyalurkan gas bersubsidi kepada pihak yang tidak berhak.
Sementara itu, warga di beberapa kecamatan mengaku harus berkeliling dari satu pangkalan ke pangkalan lain untuk mendapatkan elpiji 3 kilogram. Tidak sedikit pula yang terpaksa membeli dengan harga lebih mahal karena kebutuhan mendesak.
SMSI Bondowoso berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret agar distribusi elpiji bersubsidi kembali normal dan tidak merugikan masyarakat kecil.(Red)








