banner 728x250

Masjid Kayu 201 Tahun di Situbondo, Warisan Kyai Raden Mas Su’ud

SITUBONDO, SIBERNEWS.CO.ID- Sebuah masjid kayu di Desa Kayuputih, Situbondo, Jawa Timur, menjadi saksi bisu sejarah kejayaan Pesantren Kyai Raden Mas Su’ud pada tahun 1825. Masjid ini masih berdiri kokoh dan menjadi bukti nyata kehebatan Kyai Mas Su’ud, seorang ahli teologi, kanuragan, dan tauhid.

Masjid itu dikenal sebagai Masjid Pesantren Kyai Raden Mas Su’ud. Sosok Kyai Mas Su’ud dikenang sebagai ulama besar, ahli teologi, kanuragan, sekaligus ahli tauhid. Dalam cerita turun-temurun, ia disebut sebagai salah satu pengislam Situbondo, tokoh yang bukan hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membangun peradaban spiritual di wilayah ini. Meski pesantrennya telah lama tinggal cerita, jejak beliau tidak sepenuhnya hilang ditelan waktu.

Bukti keberadaan Kyai Raden Mas Su’ud masih dapat dilacak hingga hari ini. Nisan makamnya diakui bergaya khas ulama Pamekasan dan Sumenep, menegaskan keterkaitannya dengan tradisi keulamaan Madura. Masjid kayu peninggalannya pun masih berdiri kokoh, menjadi artefak sejarah yang seolah menolak lapuk meski telah melewati dua abad. Di luar itu, garis keturunannya terus berlanjut, membawa cerita dan mimpi masing-masing.

Kyai Raden Mas Su’ud diketahui merupakan trah keempat dari Raden Azhar Wongsodirejo, atau yang dikenal sebagai Bhujuk Sèda Bulangan, putra Raden Wiro Menggolo, Raja Sumenep. Dari garis darah inilah lahir ribuan keturunan. Namun, di antara sekian banyak cicitnya, ada satu sosok yang kerap dianggap “aneh” sekaligus unik: cicit yang berhasil menikah di banyak negara dan justru melangitkan mimpi besar untuk membangun masjid-masjid di berbagai belahan dunia.

Dalam perjalanannya, cicit Kyai Mas Su’ud ini kerap menghibur diri dengan kisah Kyai Sholeh Darat Semarang ulama besar yang menjadi guru pendiri Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, namun pesantrennya tidak berlanjut secara turun-temurun. Bagi dirinya, hilangnya pesantren Kyai Mas Su’ud bukanlah kegagalan, melainkan takdir sejarah yang menyisakan pelajaran bahwa warisan spiritual tidak selalu harus berbentuk satu institusi yang sama.

Di tengah cerita rasional itu, berkembang pula kisah-kisah lisan yang sarat nuansa mistis. Konon, masjid kayu di Kayuputih itu pernah atau masih dihuni bangsa jin, murid-murid Kyai Mas Su’ud. Mereka dipercaya menunggu hadirnya seorang kyai besar yang kelak menggantikan dan meneruskan pesantren sang guru. Cerita ini hidup dari mulut ke mulut, menjadi bagian dari folklore (budaya rakyat) religius yang menyelimuti masjid tua tersebut.

Baginya, panggung yang ditinggalkan Kyai Mas Su’ud terasa terlalu sempit. Mendirikan satu pesantren di Situbondo tidak lagi cukup menantang. Ia bermimpi membangun sejuta masjid di dunia, bahkan menargetkan lahirnya 5.000 pesantren di berbagai negara. Menurutnya, akan menjadi ironi jika seseorang mampu menikah di banyak negara, tetapi gagal membangun masjid di negara-negara tersebut.

Keyakinan akan mimpi besar itu, menurut pengakuannya, berdiri di atas pondasi kepemilikan lebih dari 1.000 tambang berbagai jenis di Indonesia. Sebuah fondasi material yang, dalam visinya, akan diabdikan untuk misi kemanusiaan dan peradaban Islam global.

Masjid kayu di Desa Kayuputih kini mungkin hanya disebut mushalla oleh generasi hari ini. Namun bagi mereka yang mau mendengar, ia adalah saksi bisu perjalanan panjang: dari Kyai Raden Mas Su’ud, pesantren yang tinggal cerita, hingga mimpi besar cicitnya yang ingin menancapkan jejak masjid di seluruh dunia.

(Uday)

error: Content is protected !!